MATERI 3 OSPEK FAKULTAS

 MATERI 3

Future Ready Mindset

        Banyak yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Persaingan kini bersifat global, tidak hanya dari kampus sebelah, tetapi juga dari universitas luar negeri karena dunia kerja yang semakin remote. Hal ini menuntut setiap individu untuk memiliki pola pikir dan keterampilan yang tepat agar siap menghadapi masa depan. Pola pikir 'future ready' sangat penting karena belajar hanya dari materi kuliah tidak akan cukup untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti. Disarankan untuk mengambil ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin selama masa perkuliahan, seperti fokus pada akademis, berorganisasi, melatih public speaking, dan membangun banyak relasi. Ini membantu dalam menghadapi berbagai macam orang, mirip pengalaman menghadapi pasien beragam di rumah sakit.

                Melatih mental dan 'future ready mindset' harus dilakukan sejak dini, tidak menunggu sampai lulus. Dengan pola pikir yang siap berubah dan tumbuh, seseorang tidak akan mudah panik dan akan tetap tenang dalam menghadapi situasi baru. Latihan terus-menerus akan menjadikan pola pikir ini otomatis, sehingga saat menghadapi tantangan di dunia kerja, solusi dapat segera ditemukan tanpa mudah stres atau mengeluh. Memiliki 'future ready mindset' adalah nilai tambah yang signifikan. Individu dengan pola pikir ini cenderung lebih cepat berkembang karena mampu melihat peluang, menjadi pemecah masalah, dan inovator, bukan hanya sekadar mengikuti prosedur. Di tengah persaingan yang ketat dengan banyak orang pintar dan ber-IPK bagus, mindset ini krusial untuk menciptakan nilai unik bagi diri sendiri.

               Profesional kesehatan, seperti ahli gizi, harus menguasai public speaking dan edukasi melalui media sosial, bukan hanya kalori. Analis kesehatan perlu menguasai teknologi dan membaca hasil secara digital. Sementara itu, tenaga kesehatan masyarakat harus mampu menyusun strategi kampanye kesehatan yang efektif melalui media sosial, beradaptasi dengan audiens yang beragam di lapangan, dan melatih orang yang lebih senior. Soft skill seperti komunikasi, kreativitas, adaptasi, dan inovasi harus dilatih sejak masa perkuliahan agar siap menghadapi tantangan di lapangan kerja.

            Peralatan laboratorium terus berkembang pesat, sehingga analis kesehatan harus memiliki 'future ready mindset' untuk cepat beradaptasi dengan teknologi baru. Anak ketiga, di bidang kesehatan, juga perlu belajar membuat standar operasional prosedur (SOP) kerja yang aman dan melatih rekan kerja yang lebih senior dengan cara yang sopan dan mudah dipahami. Masyarakat saat ini seringkali lebih mempercayai informasi viral atau hoax daripada tenaga kesehatan. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa dan profesional kesehatan untuk pintar mengolah informasi, menguasai komunikasi publik, dan memiliki 'future ready mindset' untuk berinovasi dalam menyampaikan edukasi yang kredibel. Tujuannya adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap informasi kesehatan yang benar dan melawan penyebaran hoax.
                   Belajar kini tidak hanya terbatas pada bangku kuliah, banyak orang belajar secara mandiri. Namun, mahasiswa memiliki keistimewaan untuk memvalidasi ilmu yang didapat dari belajar mandiri dengan bertanya kepada dosen di kelas. Kelas perkuliahan seharusnya menjadi momen untuk memvalidasi dan mendiskusikan ilmu yang sudah dipelajari sebelumnya, bukan untuk memulai belajar dari nol. Harapannya, mahasiswa sudah membawa bekal ilmu ketika masuk kelas. Kehidupan kuliah sangat padat, terutama bagi mahasiswa yang aktif dengan kegiatan akademik (tugas, laporan, praktikum) dan non-akademik (organisasi, kewirausahaan). Penting untuk menjaga mental agar tidak 'meledak' dengan meluangkan waktu untuk olahraga atau 'healing'. Melatih mental dan mengelola stres sejak dini di perkuliahan sangat penting, karena di dunia kerja nanti, tekanan akan lebih besar dan tidak ada toleransi untuk kondisi mental yang 'down'.
                Melatih kolaborasi, misalnya dengan membuat proyek bersama mahasiswa dari jurusan lain, adalah simulasi penting untuk dunia kerja. Di masa depan, kita akan berinteraksi dan bekerja sama dengan berbagai pihak yang mungkin memiliki latar belakang berbeda. Pengalaman kolaborasi ini akan melatih komunikasi dan adaptasi, serta menjadi nilai tambah yang unik, seperti contoh kolaborasi skripsi dengan anak sistem informasi yang menjadi poin kuat saat wawancara kerja. Penting untuk mencari kesempatan berkolaborasi dengan mahasiswa dari jurusan lain, bukan hanya dari jurusan sendiri. Sangat penting untuk mempelajari alat-alat dasar teknologi seperti Google Sheets, Canva, AI tools, dan Notion.

    Lihat blog teman saya juga 

Comments

Popular posts from this blog

Unusa Kenalkan Nomolitera untuk Cek Nomophobia Mahasiswa Asing

TUGAS RESUME DAY 1 PKKMB

TUGAS RESUME DAY 2 PKKMB